Konsep Menunggu

Kalau kata Raisa "Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi..."

Kalau kata gue, menunggu itu? Please deh, gak betah. Gue amat sangat tidak betah yang namanya menunggu. Tapi jadi sering banget menunggu gara-gara gue anaknya on time banget. Gue selalu jadi yang pertama dateng kalau janjian sama orang lain. Thats why I hate waiting but sometime I did. Hvft kan.

Dua minggu ini bahasan menunggu lagi naik daun banget. Setiap ketemu temen gue ada aja yang bahas tentang menunggu. Apalagi kalau bukan dalam konteks 'Menunggu Jodoh'. Bahasan ini dimulai dari temen gue yang cerita tentang temen kita yang lain. Suatu hari temen gue bercerita tentang Parjo dan Tuti (anggep aja gitu ya namanya biar ga pabalieut). Setelah lulus kuliah S1, Tuti memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Sumatera. Sebelum keberangkatan Tuti, Parjo menyatakan isi hatinya kepada Tuti. "Tuti, aku mempunyai perasaan yang lebih kepada mu, Aku ingin meminangmu, tapi mau kah kau menunggu ku dua tahun lagi?" kata Parjo. Gue agak lupa gimana jawaban Tuti persisnya, yang gue inget Tuti menjawab tidak bisa menunggu Parjo karena satu dan lain hal. Oke. Menurut gue ini jawaban yang tepat. Gak lama dari kejadian itu, Tuti bercerita ke temen gue kalau dia sebenarnya punya perasaan yang sama kepada Parjo. Whatt?? Tapi pada saat itu, Parjo sudah memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Oh My God?! 
Ya, ini namanya bukan jodoh. Sesimpel ini?

Sebagai orang yang gak suka adegan menunggu, gue pun mengungkapkan pendapat gue. Menurut gue, apa yang disampaikan oleh Parjo adalah salah total. Lo nyuruh wanita menunggu dalam waktu yang lama, bukan sekedar sepuluh menit sampai satu jam, tahunan. Gue ngerti, harus banyak yang dipersiapkan untuk menikah. Dan kami para wanita tidak keberatan jika sama-sama mempersiapkannya, kami pun juga gak siap kalau kalian para pria tiba-tiba datang meminang, oke kita nikah besok. Ya keleeusshh. 

Menurut kesotoyan otak gue yang cuma sesendok, kata menunggu harus dihilangkan pada konteks ini. Oh wait, perlu diluruskan disini gue bukan gadis baik-baik yang ga menerima adegan pacaran ya. ahahahhaa. Dan pacaran versi gue itu yaa untuk mengenal lebih baik lagi si calon pasangan kita. Bukan pacaran alay yang tiap hari harus ketemu menye-menye, ini ngabisin duit. Ahahahahaa

Menunggu itu beban, menunggu itu menambah kegiatan keseharian gue. Misalnya, tiap hari gue ke kampus ngerjain tesis. Kalau si Tuti adalah gue maka gue punya kegiatan tambahan yaitu menunggu. Jadi kegiatan sehari-hari gue adalah ngerjain tesis plus menunggu Parjo datang meminang. Daaannn, buat gue pribadi gue akan amat sangat mengingat itu setiap hari kalau gue menerima ajakan Parjo untuk menunggu. Misalnya lagi nihh, sekarang adalah bulan ke 3 gue menunggu Parjo maka otak gue akan selalu mengingatkan gue "Aik, 21 bulan lagi Parjo akan datang." Okee ini mungkin terdengar aneh, tapi gue yakin ada sebagian orang yang setuju sama pikiran gue. Pikiran yang lainnya, oke gue menunggu Parjo datang, tapi apa yang harus gue lakukan sambil menunggu ini (selain melakukan kegiatan normal gue sehari-hari yaaa) apakah gue harus mempersiapkan sesuatu misalnya mencari tahu biaya pernikahan? Apa gue yaudah nunggu aja, toh Parjo bilang dua tahun lagi dia siap? Gak jelas kan.

Menurut gue lagi nihh ya, sebaiknya sebelum Parjo mengungkapkan isi hatinya ke Tuti, dia harus konsultasi ke wanita macam gue. Bukan wanita baik-baik yang iya aja disuruh nunggu karena sudah merasa bangga ada pria yang baru mau akan meminangnya. Gue sebagai teman akan menyarankan Parjo untuk menyatakan ini kepada Tuti, "Tuti, aku menyayangi mu lebih dari yang selama ini ku tunjukkan padamu. Aku menyatakan ini karena aku mau serius menjalani hubungan yang lebih dengan mu, .... " hmm oke ini terlalu picisan. Baiklah mari kita ganti "Tuti, aku sudah mengenalmu cukup lama, aku sayang sama kamu, aku mau serius sama kamu, mau kah kamu berjuang bersama-sama dengan ku saling mengenal lebih baik sambil kita mempersiapkan pernikahan kita? " daan gue (Tuti) pasti akan menjawab Yess. I do! 
Gak ada kata menunggu kan? 
Padahal maksudnya sama aja, Parjo mau serius tapi belum siap kalau sekarang daaan merasa sudah terlalu tua untuk pacaran karena udah gak pantes lagi diliat sama dedek-dedek abege di luar sana. Daann bisa jadi niat baik Parjo diberi kemudahan oleh Allah sehingga tidak harus dua tahun untuk siap. Yash!

Sekali lagi, ini cuma teori dari gue gadis yang belum ada juga yang bilang mau serius macem Tuti gitu. Aahahahahaa

Komentar

  1. dear tuti, dalam menunggu itu ada kesabaran yg buahnya manis banget melebihi manisnya gue. Jadi kamu jgn bosan menunggu dan berdoa yah Tuti!
    *inget komik tuti :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah si Tuti dalam cerita ini sudah menemukan belahan jiwanya. Beberapa bulan yg lalu Tuti menikah :D

      Hapus
    2. Alhamdulillah si Tuti dalam cerita ini sudah menemukan belahan jiwanya. Beberapa bulan yg lalu Tuti menikah :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sate Maranggi Hj Yetty, Cibungur, Purwakarta

Toko ABC dan Toko Bintang

GRADUACONG!!!